TdT Suroboyo di Harian Surya
Disalin ulang oleh Joice (pasta.pot at gmail dot com)
MAILING LIST NATURAL COOKING CLUB YANG MENDUNIA
Anggotanya Tersebar dari Sidoarjo sampai Seattle
Pemersatu sebuah komunitas ternyata bukan Cuma suku atau bahasa. Kesamaan hobi pun bisa mendorong orang menyebrangi benua hanya agar bisa berkumpul sesama penggemar memasak.
Oleh Kistyarini, Surabaya
Iseng - iseng browsing resep lewat internet, saya malah menemukan milis (mailing list) pecinta kuliner. Sejak itulah saya bergabung dengan NCC," kata Dewi Puspasari tentang milis Natural Cooking Class (NCC) tempatnya bergabung.
Hal serupa dialami Dewi, Ine Sena, Mika, Lia, Veby, Putri juga Riana. Mereka bergabung dengan milis yang dibentuk oleh Fatmah Bahalwan dan suaminya Wisnu AM karena hobi memasak.
Sejak didirikan pada awal tahun 2005 lalu, milis ini sudah merangkul 2400 anggota. Mereka tersebar di lima benua. Bukan Cuma orang indonesia yang kebetulan tinggal di manca negara, tetapi juga warga setempat yang memiliki hobi sama. Kata cooking club rupanya menjadi kata pemersatu manusia berlatar belakang berbeda itu.
'Kopi darat' lebih sering dilakukan oleh para NCCers (baca: ensisiers, sebutan bagi anggota NCC) jakarta. Cooking class yang digelar di kediaman Fatmah yang pemilik usaha katering itu menjadi wadah mereka bertemu. Dewi dan Putri seperti menemukan komunitas yang mereka idamkam di sini. "komunitas pertama yang tidak suka ngegosip yang pernah saya temui," kata Putri. "Orang orangnya juga welcome banget pada orang orang baru," tukas Dewi.
" Kami bisa saling tukar ilmu memasak," tambah Ine Sena yang tinggal di Jayapura, papua, karena suaminya bekerja disana. Perempuan asal Bandung sampai rela menyebrangi lautan demi mengikuti kursus memasak NCC. "Sebisa mungkin kepulangan saya sesuaikan dengan jadwal kursus," katanya sambil tertawa.
Pengalaman Mika lebih unik. Ibu dua pitra ini bergabung dengan NCC ketika masih tinggal di Seattle, Amerika Serikat. Sekalipun berada di benua yang berbeda Mika cukup aktif. Kini setelah tinggal di sidoarjo, Mika jadi makin bersemangat. Jarajnya kini dekat dengan sesama NCCers Surabaya.
Baik Mika, Dewi, Putri dan Ine sudah terkena virus NCC. "Jualan kue!" seru mereka serempak sambul menikmati makan siang di sela -
sela acara tour de toko (TDT) Suroboyo.
"Habis, panas juga lihat yang lain busa menjual kue hasil buatan sendiri," tukas Putri.
Mika dan Ine memang belum berani membuat kue secara khusus dan menjualnya langsung. "Tapi saya menerima pesanan. Waktu di Seattle juga saya sering mendapat order membuat kue tart," jeas Mika. Di Jayapura, Ine mengalami hal yang sama. Tetangga dan teman - teman dekat tak segan memintanya membuat kue kudapan ringan semisal untuk arisan.
Mereka bukan tidak pernah diprotes suami. "Suamiku kadang protes juga kalau dalam sebulan aku ikut kursus dua kali. Tapi aku selalu bilang kalau aku bisa balik modal dalam waktu dua minggu. Karena gak meleset, akhirnya dia oke-oke saja," tutur Putri juga harus bekerja kantoran itu. Ine dan Mika di protes suami karena sering berlama lama di depan internet.
"Masalah perbedaan waktu. Di Indonesia siang, kan di Amerika malam," kata Mika. Suami Ine juga melontarkan protes senada. "Lama amat sih?" Ine menirukan suaminya ketika dia asyik ber-online dengan rekan rekannya di Jakarta. Maklum ada perbedaan waktu empat jam antara Jakarta dengan Jayapura.
Dari 2400 anggota, di Surabaya setidaknya terdapat 45 NCCers. NCC Surabaya cukup aktif. Merekalah kelompok NCC pertama di luar Jakarta yang mengadakan TdT. Setelah TdT pertama (februari 2006) hanya diikuti 10 NCCers Surabaya, TdT Suroboyo kedua diikuti rekan rekan mereka dari kota kota lain seperti Jakarta dan Madiun. Bahkan Fatmah Bahalwan, sang mentor, pun bergabung.
Mereka mengunjungi dua toko alat - alat memasak ternama. Toko Delapan Surabaya dan Toko Marchaban Sidoarjo.





